Rabu, 25 Mei 2011

SEKELUMIT

BODOH                                                                                                                                                  Jika mata pencaharian meningkat dengan pengetahuan
Tidak ada orang miskin selain orang bodoh
Namun seandainya orang bodoh mendapat mata pencaharian
Orang-orang terpelajar akan terkejut
Kekayaan tidak di peroleh hanya dari keahlian
Tetapi juga merupakan anugerah dari Allah
Terkadang di dunia ini orang-orang bodoh di hormati
Sementara orang-orang bijak di hina
Jika seorang ahli kimia meninggal dalam kesedihan dan kesengsaraan
Orang bodoh akan menemukan harta di tengah kehancurannya                                                              AWAL DARI NAFSU MANUSIA
Setiap manusia yang Hidup di alam ini tentu memiliki Rasa, dimana ada hidup tentu ada Rasa, ada Rasa tentu ada Hidup. Hakikat Rasa adalah utusan Hidup. Jirim dan Jisim manusia adalah tempat Rasa. Hidup dengan Rasa, kaya akan Rasa. Pada hakikatnya manusia lahir ke dunia ini karena ada Rasa, yang tak lain dari Rasa Ibu dan Bapak kita, setelah sah menjadi suami istri, sejak sah melaksanakan kewajibannya sebagai suami istri, dimana dua rasa bergulung menjadi satu. Didalam rahim sperma tumbuh menjadi segumpal darah, lalu menjadi janin dan ada hidup setelah 120 hari, Allah SWT mengutus Ruhul Qudus kedalamnya. Ketika bayi lahir ke alam dunia Ruhul Qudus atau ‘Hidup Suci’ itu kontak dengan hawa-hawa dunia yang mengadung unsur-unsur Air, Angin, Api, dan Tanah, timbullah Nafas yaitu sifatnya Nyawa.

Saat pertama kali bayi mengecap air susu ibunya, maka Rasa Sejatinya atau Rasa Azali nya kontak dengan saripati-saripati makanan yang terkumpul dalam ASI, yang asal kejadiannya pun dari empat unsur-unsur alam dunia tadi, sebab jika Ibunya tidak memakan makanan yang ada di alam ini, tidaklah mungkin akan ada air susunya. ASI yang dihisap bayi terus mendorongnya menjadikan sebuah keinginan (nafsu), maka dari situ mulai tumbuhlah Nafsu, yaitu pada saat kontaknya Rasa Sejati dengan Air Susu Ibu, betapa si bayi merasakan manisnya rasa susu yang membuatnya semakin lama semakin ketagihan, telat diberi ASI pun menangislah sang bayi,hawa dari makanan dan minuman terus mendorong bayi tumbuh membesar dan memproduksi Darah, inilah yang disebut Roh Jasmani.

Buktinya jika darah mannusia beku maka berhenti pula Nafas dan Nafsu-nya, sedangkan Hidup Suci yang di utus Allah SWT tadi sewaktu azali, akan tetaplah Hidup, karena asal dari Sang Maha Hidup. Bayi semakin hari semakin tumbuh besar, semakin kuat pula keinginannya, maka semakin tebal pula nafsu-nafsu menghijabnya hingga lupa kepada hidup-nya yang azali. Alangkah arifnya bila kita manusia mau mengenal ke asal-usul kejadian dirinya, karena ini semacam barometer untuk mengenali jalan pulang ke kampung asalnya yaitu ke Sagara Hayat, kepada Sang Maha Hidup, Allah SWT. Berusahalah agar menjadi arif, jika kita telaah Rukun Islam yang kelima yaitu Naik Haji ke Baitullah, bila dipikir dibolak balik, dikaji dan ditelaah dengan seksama, maka itu mirip sebuah ibarat, illustrasi perjalanan manusia ke Pusat Diri, salah satu rukun haji yaitu melaksanakan Thawaf mengelilingi Ka’bah yang gerakannya melingkar yang berlawanan dengan arah jarum jam, mengandung makna menyingkapkan kembali hijab-hijab diri dari nafsu-nafsu yang terlanjur membalut raga, agar bisa menemukan kembali Hidup Suci, bisa “Mulih ka Jati Mulang ka Asal”, menepati dalil Qur’an Suci - Innalilahi wa inna illaihi Rojiun...
"Sesungguhnya kita (manusia) berasal dari Allah dan Sesungguhnya kita (manusia) akan kembali kepada Allah jua"
Benarkah kita merasa asal dari Allah SWT ? Jika pengakuan kita seperti itu, maka WAJIB kita kembali itu kepada Allah SWT.                                                                                                                                       PUJIAN SEBELUM MENGENAL                             
Setiap suatu pekerjaan tentu mengandung suatu tujuan, begitupun dalam hal ibadat kepada Tuhan, namun apalah artinya suatu pekerjan jika tanpa Ilmu, akan sia-sia jadinya, begitupula dalam hal ibadat, janganlah menjadi sia-sia.

Tujuan ma’rifatullah (mengenal Allah SWT) adalah untuk mencapai puncak tertinggi “Jati Diri = Raga Jati”, agar tercapai kedamaian dalam diri dan alam semesta dengan terlebih dahulu mengetahui segala rahasiaNya.
Intisari rahasia perdamaian semesta ialah aturan yang benar yang berasal dari agama yang dipimpin oleh para nabi dan para Rasul Allah yang tercantum dalam kitab-kitab suci baik Al Qur’an, Injil, Zabur maupun Taurat. Untuk dapat beragama dan untuk mudahnya praktek agama, wajib terlebih dahulumengetahui adanya Dzat Allah Yang Maha Esa, sebab apabila tidak mengenal Dzat Yang Maha Hidup, tentu tidak akan sempurna menjalankan agamanya, sesuai anjuran Rasulullah SAW :

Awaaludiini ma’rifatullahi
“Awal-awalnya agama adalah mengenal Allah SWT”
Apabila telah mengenal Dzat Allah, tentu pula mencapai tingkatan Wahdat al Wujud yang maksudnya Kesatuan Wujud Semesta dan apabila mencapai pengertian demikian pasti mencapai pula perdamaian pribadi dan semesta. Ma’rifatullah merupakan syarat sah-nya amal ibadat agar yakin kepada yang akan disembahNya, serta tiada putus hingga ajal tiba. Sah-nya menyembah itu harus kenal dahulu kepada yang akan disembahnya, tidak mendahulukan sembah sebelum mengenal yang disembah, benarnya puji harus bukti dulu yang dipujinya, belumlah benar mengerjakan pekerjaan jika pekerjaan itu belum dipahami. Apabila kita mengaku sebagai hamba Allah (Kawula Gusti) maka harus melihat dulu di Gustinya, ibarat seseorang akan bekerja maka harus kenal dulu majikannya sebab tidaklah dapat langsung bekerja, tanpa tahu siapa majikannya dan tentu tidak akan mendapat upah dari pekerjaannya.

"Sesungguhnya manusia itu dalam keadaan merugi"
                                                                                 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar